Jika Anda melakukan perjalanan melalui selat Sunda menggunakan kapal ferry dari penyeberangan Merak, Banten menuju Bakauheni maka dari kejauhan anda akan melihat sebuah bangunan berwarna cerah yang terletak di ketinggian dengan ukuran yang cukup besar. Ya.. bangunan yang berbentuk khas ini dikenal dengan nama Menara Siger. Sebuah ikon yang menunjukkan bahwa Anda telah berada di propinsi paling selatan dari Andalas yakni Lampung.
Menara Siger ini terletak di atas Bukit Gamping di Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan dan dibangun dengan biaya yang tidak murah, yakni mencapai Rp15milyar. Mulai dibangun tahun 2005 dan selesai di tahun 2008, desain dan arsiteknya dikomandani oleh Ir. Anshori Djausal, M.T.
Dari Wikipedia, saya menemukan artikel ini :
Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung.
Bagunan akan berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA). Berikutnya panca gatra, yaitu berisi ideologi dan hankam. Dengan demikian para turis tidak perlu banyak bertanya.Tapi, dalam kunjungan singkat saya dan keluarga ke Menara Siger ini, saya masih merasakan banyak kekurangan didalamnya dan tulisan ini mencoba menguraikannya, dari sudut pandang saya pribadi dan tidak mewakili lembaga manapun.
Memasuki kawasan Menara Siger (MS) ini seperti memasuki komplek perkantoran pemda, karena di jaga oleh para Satpol pamong praja berseragam lengkap, kemudian ada petugas yang akan menghampiri kita dan bertanya dari mana asal daerah kita, kemudian menyerahkan selembar tiket sebagai tanda masuk kedalam MS.
Setelah membayar uang parkir beberapa ribu rupiah, kita baru bisa masuk menuju parkiran, dan ternyata tidak seperti perkiraan saya yang membayangkan susahnya mencari tempat parkir.. Parkirannya kosong, hanya ada 1-2 kendaraan terparkir dan rata-rata bernomor luar Lampung.
Nah,, diartikel di wikipedia disebutkan akan ada penjelasan lengkap mengenai propinsi Lampung dengan segala potensinya, ternyata didalam bangunan besar ini juga kosong dan minim informasi, tidak ada data-data yang menggambarkan secara detil propinsi Lampung dengan segala potensinya yang luar biasa. Bahkan ada beberapa bagian dari MS yang seolah-olah kurang terawat seperti banyaknya plafon yang jebol, dinding yang kusam dan area lantai yang kurang bersih dan toilet yang kotor dan diperparah dengan air kran yang tidak mengalir.
![]() |
| isi dalam Menara Siger yang kosong |
Bagi kebanyakan orang dewasa atau mungkin para wisatawan, mungkin akan sedikit kecewa jika telah keluar dari area MS ini karena kondisinya tidak sama dengan yang diberitakan oleh media-media di propinsi Lampung.
Tapi, bagi anak-anak, mereka tentu masih bisa menikmati MS ini, setidaknya ada sedikit hiburan bagi mereka, seperti adanya teropong besar di luar MS yang menghadap ke arah selat Sunda. Dengan membayar Rp1.000 anak-anak sudah bisa meneropong indahnya laut, pantai, pulau-pulau kecil dan kapal-kapal yang berlayar di selat Sunda selama 1,5 menit. Sebuah pengalaman sangat berharga untuk mereka pastinya.. 'wow..kapalnya mau nabrak aku' kata Gagah saat masih memegang teropong.
Ini kisah saya dan keluarga saat mengunjungi MS beberapa waktu yang lalu, ada rasa prihatin yang tiba-tiba hadir di relung hati begitu melihat bangunan semegah ini tapi dibiarkan kosong melompong, sayang sekali jika bangunan dengan investasi besar ini tidak mampu menjadi ikon dari propinsi Lampung secara nyata.
![]() |
| titik 0 KM ujung selatan Sumatera dimulai dari tugu ini |








